Anda punya medali emas, baik itu dari pemberian keluarga atau karena memenangi suatu perlombaan? Lalu Anda penasaran, apakah medali emas bisa dijual? Sebelum memutuskan untuk menguangkan benda sentimental tersebut, simak dulu berbagai fakta penting terkait jual-beli medali emas dalam artikel ini.
Fakta 1: Medali “Emas” yang Tak Selalu Emas

Fakta pertama yang perlu Anda ketahui adalah terkait apakah medali emas itu emas asli.
Jadi, apakah medali emas terbuat dari emas? Jawabannya “ya” dan “tidak”. Meski agak mengecewakan, nyatanya medali emas tidak seluruhnya terbuat dari emas murni.
Contohnya, medali Olimpiade yang terbuat dari emas murni hanya pada Olimpiade Musim Panas tahun 1904 dan 1912 saja. Setelah tahun 1912, IOC mengganti bahannya.
Mengapa? Karena emas 24 karat mudah penyok dan berbekas jika tergores. Tentu tidak sesuai untuk medali yang hendak disimpan atau dipajang. Sekarang, menurut aturan IOC, medali “emas” harus mengandung minimal 92,5% perak sebagai dasarnya, lalu berlapis setidaknya 6 gram emas murni di luarnya.
Lain lagi dengan medali emas di Indonesia, khususnya untuk Pekan Olahraga Nasional (PON). Aturan bahannya tidak seketat Olimpiade. Medali emas PON umumnya tidak terbuat dari perak murni di bagian dalamnya. Alasannya, biaya produksi mesti efisien dan pesanannya sangat banyak.
Alhasil, bahannya kebanyakan adalah kuningan, campuran seng, atau timah. Baru setelah itu, medali ini disepuh dengan lapisan emas tipis supaya terlihat seperti emas asli.
Fakta 2: Medali Emas Bisa Dijual, Tapi .…

Lantas, apakah medali emas Olimpiade bisa dijual? Bagaimana dengan medali emas PON?
Secara hukum, menjual medali emas itu sah-sah saja karena sudah menjadi properti pribadi atlet. Namun, ada kendala pasar yang tidak boleh luput dari pertimbangan. Sebagai aset, medali emas tidak likuid. Artinya, tidak mudah ‘mencairkannya’.
Tidak seperti emas batangan yang harganya cenderung transparan dan banyak pembelinya, nilai medali emas amat bergantung pada minat kolektor yang mau membelinya.
Selain itu, ada juga aturan hak intelektual dan regulasi dari organisasi. Walaupun medali secara fisik adalah milik atlet, hak atas desain dan simbol di atasnya tetap menjadi milik pihak seperti IOC.
Contohnya, simbol lima cincin Olimpiade dilindungi oleh perjanjian internasional. Maka dari itu, tidak boleh menggunakan simbol itu untuk keperluan komersial atau promosi tanpa izin, meskipun medali sudah pindah tangan ke pembeli baru.
Jadi, jika pembeli memanfaatkan medali itu untuk iklan produk, bisa kena tuntutan hukum lantaran melanggar hak cipta.
Fakta 3: Harga Medali Emas yang Hanya Setara Motor Matic

Untuk menentukan harga medali emas, Anda perlu membedakan nilai bahannya sebagai logam dan nilai sejarahnya sebagai koleksi.
Nilai logam adalah harga jika Anda melebur medali tersebut. Misalnya, dengan asumsi harga emas Rp2,6 juta per gram, maka 6 gram emas pada medali Olimpiade bernilai sekitar Rp15,8 juta. Nilai ini terbilang relatif kecil sebab tak cukup untuk membeli mobil, hanya setara dengan harga satu sepeda motor matic kelas menengah.
Jauh berbeda dari nilai logamnya, medali emas bisa berharga selangit di balai lelang. Harganya melonjak karena latar belakang sejarah dan nama besar atlet yang memenangkannya.
Bagi kolektor global, medali emas merupakan benda bersejarah setara pusaka budaya. Contoh ekstremnya, medali emas Jesse Owens dari Olimpiade Berlin 1936 laku US$1,47 juta (sekitar Rp22 miliar lebih) di tahun 2013. Kisah heroik sang atlet terhadap rasisme turut mendongkrak nilainya.
Sementara itu, medali atlet yang kurang terkenal mungkin hanya terjual sekitar US$83 ribu (sekitar Rp1,2 miliar). Dengan kata lain, ketenaran atlet adalah kunci penentu nilai jual medali emas.
Jadi, apakah medali emas bisa dijual, jawabannya “ya”. Oleh sebab itu, sah saja jika Anda memutuskan untuk menjualnya. Untuk mempermudah, Emas Murni Asli siap membantu. Cepat, jelas, aman, dan tepercaya, sehingga Anda bisa mendapat tawaran harga terbaik untuk benda berharga Anda.




