Dedolarisasi adalah upaya negara mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam perdagangan internasional, cadangan devisa, dan sistem pembayaran. Langkah ini dilakukan melalui penggunaan mata uang lokal, diversifikasi aset cadangan, serta pengembangan infrastruktur pembayaran alternatif.
Meski demikian, dedolarisasi bukan berarti dolar akan segera kehilangan dominasinya. Data IMF menunjukkan bahwa dolar masih mencakup 57,13% cadangan devisa global pada kuartal I 2026. Angka ini menunjukkan bahwa perubahan sistem moneter global berlangsung bertahap, bukan melalui penggantian satu mata uang secara langsung.
Lantas, apa yang mendorong negara mengurangi ketergantungan pada dolar dan bagaimana dampaknya bagi ekonomi Indonesia? Berikut penjelasannya.
Apa yang Dimaksud dengan Dedolarisasi?
Dedolarisasi adalah proses mengurangi peran dolar AS dalam aktivitas ekonomi lintas negara. Perubahan ini dapat terjadi dalam tiga aspek, yaitu mata uang untuk transaksi perdagangan, komposisi cadangan devisa, dan infrastruktur pembayaran internasional.
Salah satu pendorongnya adalah keinginan negara untuk memiliki lebih banyak pilihan dalam mengelola transaksi dan aset keuangan. Negara tidak harus meninggalkan dolar sepenuhnya, tetapi dapat menggunakan mata uang lain sesuai kebutuhan perdagangan dan kebijakan ekonominya.
BRICS, misalnya, mendorong penggunaan mata uang lokal dan pengembangan mekanisme pembayaran lintas negara. Namun, komitmen tersebut tidak sama dengan keputusan membentuk mata uang tunggal BRICS. Dalam Deklarasi Kazan 2024, kelompok ini mendukung pembahasan infrastruktur pembayaran alternatif tanpa menetapkan mata uang tunggal sebagai kebijakan bersama.
Baca Juga: Apa itu Tabungan Emas? Pengertian, Jenis, dan Cara Memulainya
Alasan Negara Mengurangi Ketergantungan pada Dolar
Ada beberapa faktor ekonomi dan geopolitik yang mendorong negara mempertimbangkan dedolarisasi.
1. Mengurangi Risiko Nilai Tukar
Ketika dolar menguat terhadap mata uang lokal, biaya impor yang ditagihkan dalam dolar dapat meningkat. Kondisi ini memengaruhi perusahaan yang membeli bahan baku dari luar negeri, terutama jika pendapatannya menggunakan mata uang lokal.
Kebijakan suku bunga Federal Reserve juga dapat memengaruhi arus modal dan nilai tukar negara berkembang. Karena itu, penggunaan mata uang lokal dalam transaksi tertentu dapat membantu mengurangi kebutuhan konversi melalui dolar, meskipun tidak menghilangkan seluruh risiko kurs.
2. Mengantisipasi Risiko Sanksi Keuangan
Pembekuan sebagian cadangan devisa Rusia setelah invasi ke Ukraina pada 2022 menunjukkan bahwa aset luar negeri dapat terdampak sanksi internasional. Peristiwa tersebut mendorong sejumlah negara mempertimbangkan diversifikasi cadangan dan jalur pembayaran.
Namun, diversifikasi bukan berarti seluruh aset dolar otomatis tidak aman. Dampaknya bergantung pada yurisdiksi, jenis aset, dan kebijakan sanksi yang berlaku.
3. Memperluas Kedaulatan Ekonomi
Negara ingin memiliki fleksibilitas lebih besar dalam mengelola transaksi internasional. Ketergantungan pada satu mata uang dan infrastruktur pembayaran dapat membatasi pilihan ketika terjadi gangguan atau pembatasan akses.
Dengan memperluas penggunaan mata uang lain, negara berupaya menambah alternatif penyelesaian transaksi dan mengurangi konsentrasi risiko.
4. Mengembangkan Infrastruktur Pembayaran Alternatif
Ketergantungan pada jaringan pembayaran internasional tertentu mendorong sejumlah negara mengembangkan infrastruktur sendiri. Tujuannya adalah memperluas pilihan pembayaran lintas negara, bukan semata-mata mengganti dolar.
Meski demikian, sistem alternatif tetap memerlukan kerja sama antarbank, standar teknis yang kompatibel, likuiditas, dan kepercayaan pelaku pasar agar dapat digunakan secara luas.
Bentuk Penerapan Dedolarisasi
Penerapan dedolarisasi berbeda-beda sesuai kebutuhan dan kesiapan setiap negara. Berikut tiga bentuk yang umum dilakukan.
1. Transaksi Mata Uang Lokal melalui LCT
Indonesia mendorong Local Currency Transaction (LCT), yaitu transaksi lintas negara menggunakan mata uang lokal negara yang terlibat. Skema ini dapat mengurangi kebutuhan penggunaan dolar sebagai mata uang perantara.
Bank Indonesia mencatat nilai transaksi LCT mencapai ekuivalen US11,7miliarpadasemesterI2025,meningkatdariUS4,702 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan peningkatan penggunaan mekanisme transaksi mata uang lokal di Indonesia.
Meski demikian, LCT tidak menghapus risiko nilai tukar sepenuhnya. Pelaku usaha tetap perlu memperhitungkan kurs, likuiditas, dan ketentuan transaksi dengan mitra dagang.
2. Diversifikasi Cadangan Devisa dan Emas
Bank sentral dapat menyebarkan cadangan devisa ke berbagai mata uang, seperti euro, yen, dan renminbi. Selain itu, emas menjadi salah satu aset yang digunakan untuk diversifikasi cadangan resmi.
World Gold Council mencatat pembelian bersih emas oleh bank sentral mencapai sekitar 1.136 ton pada 2022 dan 1.037 ton pada 2023. Pembelian pada 2022 merupakan rekor tertinggi dalam seri data yang tersedia sejak 1950.
Emas tidak memiliki penerbit seperti mata uang suatu negara sehingga dapat membantu mengurangi konsentrasi risiko. Namun, harga emas tetap berfluktuasi dan tidak menjamin perlindungan nilai dalam setiap kondisi pasar.
3. Sistem Pembayaran Alternatif dan CBDC
Tiongkok mengembangkan Cross-Border Interbank Payment System (CIPS), sedangkan Rusia memiliki System for Transfer of Financial Messages (SPFS). Keduanya merupakan bagian dari upaya membangun alternatif infrastruktur keuangan, meskipun fungsi dan cakupannya tidak sama dengan SWIFT.
Selain itu, proyek mBridge mengeksplorasi penggunaan central bank digital currency (CBDC) untuk pembayaran lintas negara. Pengembangan sistem semacam ini masih menghadapi tantangan, termasuk interoperabilitas, keamanan siber, dan kepatuhan terhadap regulasi.
Dampak Dedolarisasi bagi Ekonomi Global
Dampak dedolarisasi mencakup peluang diversifikasi dan tantangan dalam mengelola transaksi internasional. Hasilnya bergantung pada kesiapan infrastruktur, likuiditas pasar, dan kebijakan masing-masing negara.
Manfaat dan Risiko Dedolarisasi
Penggunaan mata uang lokal dapat mengurangi kebutuhan konversi tertentu dan memberi pelaku usaha lebih banyak pilihan dalam menyelesaikan transaksi. Diversifikasi cadangan juga membantu bank sentral menghindari konsentrasi aset pada satu mata uang.
Di sisi lain, penggunaan lebih banyak mata uang dapat meningkatkan kompleksitas pengelolaan keuangan. Pasangan mata uang yang kurang likuid berpotensi memiliki selisih harga beli dan jual lebih lebar serta biaya lindung nilai lebih tinggi. Jika sistem pembayaran berkembang tanpa interoperabilitas yang memadai, transaksi lintas negara juga bisa menjadi lebih rumit.
Mengapa Dolar AS Masih Dominan?
Menurut survei Bank for International Settlements (BIS), dolar berada di salah satu sisi dalam 89,2% transaksi valuta asing pada April 2025. Angka ini menunjukkan peran dolar dalam pasar valuta asing, bukan persentase perdagangan global yang menggunakan dolar.
Dominasi tersebut didukung oleh likuiditas pasar keuangan AS, luasnya penggunaan dolar dalam kontrak perdagangan, serta ketersediaan instrumen pembiayaan dan lindung nilai. Karena itu, dedolarisasi tidak otomatis membuat dolar kehilangan perannya dalam waktu singkat.
Pengaruhnya bagi Pelaku Usaha dan Investor
Pelaku usaha perlu memperhatikan mata uang yang digunakan dalam kontrak, biaya konversi, serta risiko perubahan kurs. Sementara itu, investor sebaiknya mempertimbangkan tujuan investasi, toleransi risiko, dan diversifikasi portofolio.
Perubahan sistem moneter global tidak berarti semua pihak harus meninggalkan dolar atau beralih ke emas. Keputusan keuangan tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing.
Baca Juga: Kapan Waktu yang Tepat Membeli Emas? Ketahui Panduannya Di Sini!
Pertimbangkan Diversifikasi Aset dengan Emas
Dedolarisasi menunjukkan bahwa negara berupaya memperluas pilihan dalam mengelola cadangan dan transaksi internasional. Namun, dolar masih memegang peran penting sehingga perubahan ini lebih tepat dipahami sebagai proses diversifikasi daripada pergantian mata uang secara menyeluruh.
Bagi individu, emas dapat dipertimbangkan sebagai salah satu pelengkap portofolio, sesuai tujuan keuangan dan toleransi risiko. Jika ingin mengenal pilihan produk emas, kamu dapat mengunjungi emasmurniasli.co.id untuk melihat produk emas logam mulia, KitKat Gold, dan emas custom.
Sebelum membeli, pertimbangkan harga, biaya, tujuan kepemilikan, serta kebutuhan likuiditas agar keputusan sesuai dengan kondisi keuanganmu.
Pertanyaan yang sering diajukan
Dedolarisasi adalah proses apa?
Dedolarisasi adalah proses mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam transaksi internasional, cadangan devisa, dan sistem pembayaran. Proses ini tidak berarti dolar harus dihapus sepenuhnya.
Negara mana saja yang menjalankan dedolarisasi?
Rusia dan Tiongkok termasuk negara yang mendorong penggunaan mata uang lokal dan alternatif infrastruktur pembayaran. Indonesia juga memperluas transaksi mata uang lokal melalui skema LCT bersama sejumlah mitra.
Apakah dedolarisasi membuat rupiah menguat?
Tidak otomatis. Nilai rupiah tetap dipengaruhi suku bunga, arus modal, neraca perdagangan, inflasi, dan kondisi ekonomi domestik maupun global.
Mengapa bank sentral membeli emas?
Emas menjadi salah satu instrumen diversifikasi cadangan karena tidak diterbitkan oleh pemerintah tertentu. Namun, harganya tetap dapat naik atau turun mengikuti kondisi pasar.
Apakah aset kripto menjadi alternatif dolar?
Tidak otomatis. Banyak stablecoin justru dipatok pada dolar AS, sedangkan harga Bitcoin berfluktuasi dan penggunaannya sebagai cadangan resmi masih terbatas.
Tim Emas Murni Asli
Dapatkan info harga emas di inbox Anda.
Artikel dan info terbaru, dikirim saat kami publikasikan.



