Lewati ke konten utama
Emas batangan bersertifikat resmi, harga transparan diperbarui setiap hari.Lihat Koleksi
Emas Murni Asli
Rp 2.522.500/gram(-0,16%)
Umum

7 Perencanaan Keuangan Keluarga agar Masa Depan Lebih Terjamin

Panduan menyusun rencana keuangan keluarga agar masa depan lebih aman

· · 5 menit baca

Pasangan suami istri sedang mencatat dan merencanakan keuangan keluarga bersama.

Perencanaan keuangan keluarga dimulai dengan mengetahui posisi keuangan Anda saat ini, menentukan tujuan yang jelas, lalu membagi penghasilan ke beberapa pos. Mulai dari kebutuhan, dana darurat, proteksi, dan investasi. Dengan urutan ini, keputusan finansial Anda tidak lagi bergantung pada sisa akhir uang di akhir bulan saja.

Perencanaan ini sangat penting, banyak keluarga merasa aman hanya karena tagihan bulanan masih terbayar. Padahal, kondisi tersebut bisa berubah secara cepat, misalnya Anda tiba-tiba di PHK, biaya berobat, atau bahkan kenaikan biaya sekolah anak. Apalagi, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia yang baru mencapai 66,46% menurut survei OJK dan BPS.

Artikel ini akan membahas tujuh langkah praktis pengelolaan keuangan yang bisa langsung Anda terapkan bersama pasangan, lengkap dengan contoh perhitungannya.

Baca Juga: 8 Cara Mengatur Keuangan Rumah Tangga agar Tabungan Tetap Aman

Tips Menyusun Perencanaan Keuangan Keluarga agar Lebih Stabil

Proses keuangan keluarga adalah proses sistematis untuk mengatur pendapatan, pengeluaran, tabungan, dan investasi agar tujuan jangka pendek maupun jangka panjang tercapai. Intinya, setiap rupiah bekerja untuk tujuan yang jelas dan bukan sekadar habis dipakai. Berikut langkah-langkahnya.

1. Nilai Kondisi Keuangan Keluarga Saat Ini

Mulailah dengan menghitung semua pemasukan, lalu catat seluruh pengeluaran selama satu bulan di buku catatan keuangan, spreadsheet, atau aplikasi di ponsel Anda. Sebagai contoh, jika gaji suami Rp10 juta, gaji istri Rp7 juta, dan bisnis bersama Rp5 juta, maka totalnya Rp22 juta.

Jika pengeluaran total keluarga yaitu Rp16,2 juta, maka sisa uang Anda adalah Rp5,8 juta bisa dialokasikan. Catat keuangan rumah tangga yang konsisten selama 2-3 bulan dengan tujuan untuk mengetahui kebocoran yang selama ini tidak terasa.

2. Tentukan Tujuan Keuangan

Contoh tujuan keuangan untuk jangka pendek adalah melunasi cicilan atau liburan keluarga, sedangkan untuk jangka panjangnya meliputi dana pendidikan anak, membeli rumah, dan dana pensiun. Anda bisa menulis nominal dan tenggatnya agar prosesnya mudah dipantau dan tidak berhenti sebagai wacana saja.

Misalnya, jika ingin memiliki dana pendidikan Rp100 juta dalam 10 tahun maka Anda harus menabung sekitar Rp833 ribu per bulan tanpa memperhitungkan imbal hasilnya. Bagi tujuan per anggota keluarga supaya semua orang merasa terlibat dan bertanggung jawab.

3. Susun Anggaran Berdasarkan Prioritas

Urutan prioritas yang umum adalah kebutuhan pokok, dana darurat, proteksi, tabungan dan investasi, kemudian entertain atau lifestyle. Misalnya, Anda bisa membagi penghasilan menjadi, 50% untuk kebutuhan pokok, 10% untuk dana darurat dan tabungan, 15% untuk investasi, 10% untuk pendidikan, 10% untuk cicilan, dan 5% untuk hiburan.

Jika penghasilan Anda adalah Rp10 juta, maka artinya Rp5 juta untuk kebutuhan pokok, dan Rp1,5 juta untuk investasi. Kemudian, Anda bisa menyesuaikan persentase dengan jumlah tanggungan dan pastikan untuk menyisihkan tabungan ini di awal bulan.

4. Siapkan Dana Darurat Sesuai Sumber Penghasilan

Keluarga dengan satu sumber penghasilan disarankan untuk menyiapkan 6-12 kali pengeluaran bulanan. Sedangkan jika memiliki 2 sumber pemasukan, cukup 3-6 kali dana darurat. Jadi, jika pengeluarannya adalah Rp8 juta per bulan dan hanya satu orang yang bekerja, maka target dana daruratnya Rp48 juta sampai Rp96 juta.

Mulailah dari target kecil misalnya satu bulan pengeluaran, lalu tingkatkan secara bertahap. Agar tidak tercampur dengan uang yang dialokasikan untuk kebutuhan, pastikan untuk menyimpannya di rekening terpisah pada bank yang sudah dijamin LPS, yang memenuhi ketentuan penjaminan.

5.  Lindungi Keluarga dengan Asuransi

Satu kali rawat inap tanpa persiapan bisa menguras tabungan dalam waktu singkat. Oleh karena itu, asuransi kesehatan dan jiwa perlu masuk anggaran tersebut sebelum Anda melangkah lebih jauh untuk mengurus investasi. Pastikan perusahaan asuransi yang Anda pilih telah berizin dan diawasi OJK.

Selain itu, bandingkan beberapa produk dan ketahui manfaatnya sebelum memutuskan manakah jenis yang ingin dipilih. Tentukan juga siapa yang ditanggung agar manfaatnya sesuai kebutuhan keluarga. Perlu dipahami, bahwa premi yang terjangkau lebih baik daripada produk yang mahal dan akhirnya pembayarannya tersendat.

6. Mulai Berinvestasi Secara Bertahap

Setelah dana darurat terpenuhi dan proteksi keluarga Anda aman, selanjutnya Anda bisa mulai berinvestasi. Pilih instrumen investasi sesuai tujuan. Reksa dana cocok untuk pemula, obligasi relatif stabil, saham berpotensi tinggi untuk jangka panjang, dan emas dapat membantu menjaga nilai aset terhadap inflasi.

Menyisihkan Rp500 per bulan secara rutin lebih efektif daripada menunggu dana besar yang tak kunjung terkumpul. Selain itu, Anda juga bisa melakukan diversifikasi aset agar risiko tidak menumpuk hanya pada satu instrumen saja, pahami juga risiko masing-masing instrumen tersebut sebelum membelinya.

7. Evaluasi dan Libatkan Seluruh Anggota Keluarga

Gaji memang bisa naik, anak ikut bertambah, atau bahkan pekerjaan berganti. Maka dari itu, Anda perlu melakukan evaluasi perencanaan finansial maupun catatan keuangan rumah tangga setidaknya setiap enam bulan sekali. Adakan rapat singkat bersama pasangan setiap bulan untuk meninjau pengelolaan keuangan dan membahas pos konsumsi yang berlebih.

Selain itu, Anda juga bisa melibatkan anak sesuai usianya untuk mulai menabung. Misalnya, lewat celengan agar kebiasaan baik terbentuk sejak dini. Siapkan juga dana khusus untuk pengeluaran rutin seperti biaya servis, pembayaran pajak rumah dan kendaraan, dan yang lainnya. Mulailah dari satu atau dua pos agar tidak kewalahan.

Baca Juga: Cara Menyimpan Emas yang Aman agar Tidak Hilang dan Rusak

Susun Rencana Keuangan Anda dan Siapkan Tabungan Sekarang

Perencanaan keuangan keluarga yang baik tidak harus memulainya dengan hal yang rumit. Anda bisa memulainya dengan catatan sederhana, menetapkan tujuan, menyiapkan dana darurat dan proteksi, lalu berinvestasi secara bertahap. Yang perlu Anda pahami, bahwa konsistensi jauh lebih penting daripada besarnya nominal saat memulainya.

Siap menambahkan emas ke dalam rencana keuangan keluarga Anda? Cek katalog produk kami di laman emasmurniasli.co.id sekarang dan pilih produk yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Tersedia logam mulia, emas edisi spesial, Kitkat Gold, dan emas custom yang bisa Anda pilih. Jangan tunda lagi, mulai sisikan emas mulai sekarang.

Pertanyaan yang sering diajukan

Kapan waktu terbaik untuk memulai perencanaan keuangan keluarga?

Sekarang, bahkan sejak awal menikah. Semakin cepat Anda memulainya, maka semakin ringan nominal bulanan yang perlu disisihkan.

Berapa persen penghasilan yang sebaiknya ditabung?

Umumnya 10-20 persen untuk tabungan dan investasi jangka panjang. Angka ini bisa disesuaikan dengan cicilan dan jumlah tanggungan.

Mana yang lebih dulu, dana darurat atau investasi?

Dana darurat. Dengan begitu, Anda tidak perlu menjual aset investasi saat harga sedang turun hanya karena ada kebutuhan mendadak.

Apakah perlu mencatat pengeluaran setiap hari?

Perlu, setidaknya pada beberapa bulan pertama agar pola pemborosan Anda bisa terlihat. Setelah terbiasa, Anda bisa beralih ke aplikasi yang dapat membantu pencatatan.

Berapa batas cicilan yang aman untuk keluarga?

Total cicilan sebaiknya tidak melebihi 30% dari penghasilan bulanan. Dahulukan utang produktif seperti KPR atau biaya pendidikan.

Bagikan artikel ini
TE
Tim Editorial

Tim Emas Murni Asli

Dapatkan info harga emas di inbox Anda.

Artikel dan info terbaru, dikirim saat kami publikasikan.

Butuh bantuan?